Ayana Jangan Sedih
Di suatu pagi yang cerah. Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju
sekolah. Seperti biasanya aku datang terlambat. Padahal hari ini adalah hari
pertamaku masuk SMA. Sudah menjadi kebiasaanku dari SMP untuk datang terlambat
ke sekolah. Entah sudah berapa kali orang tuaku di panggil oleh pihak sekolah
karena kebiasaanku itu. Karena ini hari pertamaku, guru memberikanku toleransi
hanya untuk hari ini. Akupun segera menuju kelas yang sudah di tentukan. Saat
memasuki kelas aku melihat seseorang yang kukenal semasa SMP. Namanya Rizal,
dia adalah sahabatku baikku. Dengan percaya diri aku menghampiri dan
menyapanya.
“Woy Zal! Apa kabar lu?” sapaku
dengan ramah
“Baik Jay, ganyangka gua bisa satu kelas
sama lu lagi.”
“Hahaha! Udah lama gua gak ngeliat mukalu yang unik ini Zal.”
“Yah terserah lu dah, eh! Lu tau gak
kalo si Ayana juga masuk sekolah ini?”
“Ah! Yang bener lu?” tanyaku dengan
penasaran
“yee… serius gw! Tuh orangnya dateng.”
Sambil menunjuk ke arah sesosok perempuan
Setelah kuperhatikan dengan
baik-baik. Ternyata benar bahwa perempuan itu adalah Ayana. Nama lengkapnya
Ayana Shahab. Dia adalah tetangga sekaligus sahabatku sejak kami masih kecil.
Saat SMP kami juga pernah sekelas, oleh karena itu si Rizal juga mengenal
Ayana. Tapi ada yang berbeda darinya. Dia terlihat lebih cantik dan dewasa saat
ini. Dengan semangat aku dan Rizal berlari ke arahnya.
“Weh Ay! Ini beneran Ayanakan?”
tanyaku dengan girang
“Iya! Apa kabar kalian berdua? Gw
kangen banget sama kalian”
“Baik kok, makin cantik aja lu ay.”
Candaku kepada ayana
“Aaahh…. Modus aja lu bro!” celetuk
Rizal
“Hahahahaha!” kami bertigapun tertawa
dengan riang
Karena aku dan Ayana bertetanggaan.
Akupun mengajak Ayana pulang bareng bersamaku. Kami menempuh perjalanan pulang
dengan berjalan kaki, karena memang rumah kami tidak terlalu jauh dari sekolah.
Kami pulang melintasi taman yang dulu menjadi tempat bermain kami saat masih
kecil.
“Jay! Lu inget gak dulu kita pernah
main ayunan di situ?”
“inget kok! dulu lu melulu yang main,
gua cuman kebagian dorongin ayunan doang!”
“Hahahaha! Lagian gua kan cewek Jay,
masa gua yang dorongin ayunannya.”
“iyadeh terserah lu.” Jawabku dengan
santai
Setelah 15 menit kamipun sampai ke
rumah masing-masing dan mengakhiri percakapan kami. Keesokkan harinya aku
berangkat sekolah dengan Ayana pagi sekali sekitar pukul 6 pagi. Ya beginilah
bila berangkat sekolah dengan orang yang memang sangat di siplin. Berbeda
denganku yang biasanya berangkat sekolah pukul 7 pagi. Hari demi hari ku
lewati, tidak terasa sudah 6 bulan aku menjadi siswa SMA. Dan aku pun semakin
dekat dengan Ayana setiap harinya. Sampai akhirnya muncul perasaan suka
kepadanya. Entah dia mempunyai perasaan yang sama kepadaku atau tidak, tetapi
Hari itu aku berniat ingin mengajaknya ke taman dan mengungkapkan persaanku
kepadanya. Sayangnya pada hari Ayana jatuh sakit dan tidak masuk sekolah.
“Woy bro! Si Ayana kemana? Kok hari
ini dia gak masuk?” Tanya Rizal penasaran
“Dia sakit Zal, katanya sih demam.”
Jawabku dengan murung
“Pantesan aja dia kagak masuk.”
“Gua entar mau ngejenguk dia di
rumahnya, lu mau ikut gak?”
“yah! Gua entar mau ke rumah nenek
gua bro.”
“Yaudah gapapa sih, entar gua sendirian aja
deh.”
“Sorry banget yeh, gw nitip salam aja
buat dia biar cepet sembuh.”
Sepulang sekolah aku bergegas kerumah
Ayana dengan membawa buah-buahan yang kubeli di tukang buah depan sekolah.
Kebetulan di depan rumahnya ada ibunya Ayana sedang menyirami tanaman.
“Permisi tante, Ayananya ada?”
tanyaku dengan sopan
“Ada kok! Ayo masuk!”
“Iya Tante.”
“Tuh ayananya lagi tiduran di
kamarnya.” Sambil menunjuk ke arah ayana
“Ay! Gimana kabar lu? Udah baikkan?.”
“Udah kok, katanya gua cuman kurang
istirahat doang.” Jawab Ayana dengan lesu
“Nih gua bawain buah-buahan buat lu.”
“Makasih ya Jay, udah perhatian sama
gua.”
“Iya, lagian jugakan kita udah
sahabatan dari kecil.”
“Lu emang sahabat terbaik gua Jay.”
“ Lu cepet sembuh dong! Entar kalo lu
udah sembuh kita jalan bareng di taman.”
“Iya, tapi traktirin gua makan yah?
Hahaha!”
“Iya itu mah gampang. Gua pulang dulu
ya Ay, udah sore soalnya.”
“Iya, makasih yah udah ngejenguk gua
sampe bawain buah segala.”
“iya sama-sama.”
Aku pun pulang dengan sedih melihat
Ayana dalam keadaan sakit seperti itu. Aku hanya bisa berdoa untuk
kesembuhannya. Aku berencana akan mengungkapkan perasaan cintaku saat dia sudah
sembuh dari sakitnya. Semoga saja besok dia sudah kembali dalam keadaan sehat.
Keesokkan harinya, pagi sekali aku sudah terkaget-kaget karena di suruh bangun
oleh si Ayana.
“Bangun…. Bangun…. Kalo gak bangun
gua cium nih!” Teriak Ayana sambil tertawa
“Apaan sih Ay? Ngagetin aja ahh.”
“Ayo bangun! Kan janjinya kalo gua
sembuh kita mau jalan ke taman bareng.”
“Yaudah gua mandi dulu, lu tunggu aja
di ruang tamu!”
“Yaudah cepet yah.”
Pagi itu Ayana datang ke rumahku,
karena aku sudah berjanji mengajaknya jalan ke taman bila ia sembuh dari
sakitnya. Pagi itu hari Minggu jadi kami bebas dari kegiatan sekolah. Karena
hari di mana aku ingin menyampaikan perasaanku saat itu terhalangi, akupun
berniat mengungkapkan perasaanku kepadanya hari ini di taman. Selesai mandi
akupun menuju ruang tamu untuk menemui Ayana.
“Lama amat sih mandinya, kayak cewek
aja.” Ucap Ayana dengan wajah polosnya
“Enak aja, emang cewek doang yang
mandinya lama.”
“Yaudah ayo kita ke taman, keburu siang
entar.”
“Yaudah ayo jalan.”
Kami pun sampai di taman kesukaan kami.
Taman yang dulunya selalu menjadi tempat bermain kami sewaktu masih kecil.
Ayanapun berlari ke arah pohon yang cukup rindang dan berteriak memanggil
namaku.
“Jay! Coba deh kamu kesini! Lucu deh
kupu-kupunya itu, ambilin dong!”
“Di kira nangkep kupu-kupu gampang.”
“pliss…! Ambilin dong Jay!”
“Iyeh! Gua ambilin.”
Dengan usaha keras akupun berusaha
mengambil kupu-kupu itu. Entah sudah berapa kali aku berusaha, tetapi kupu-kupu
itu selalu saja terbang menghindar. Sampai akhirnya akupun mendapatkan kupu-kupu
itu.
“Nih! Kupu-kupunya ay.”
“Ihh… bagus banget sih kupu-kupunya,
makasih ya Jay.”
Melihat senyumnya yang manis dan tulus
itu mambuat hatiku terasa senang dan damai.
“Jay! Kok bengong sih?”
“Eh! Enggak kok, makan yuk!”
“ayuk!”
Kamipun sampai di tempat makan di
pinggir jalan. Dengan semangat Ayana menarik tanganku kearah tukang bakso yang
ada di situ.
“Baksonya dua ya mas! yang satu manis
yang satu pedes.” Ucap Ayana ke tukang bakso
“Lah! Kok gua yang pedes lu yang manis
sih? Kalo gua kepadesan gimana?”
“Biarin, lu kan
orangnya pedes kalo gua manis. Mau gimana lagi coba?
“terserah lu deh
ay.”
“yaahh… ngambek
nih gak asik ah, senyum dong!” ucap Ayana dengan senyum manisnya
Dalam hati ku
berkata “Ya Tuhan. Andai ini terakhir kali nya aku melihat cintaku tersenyum
seperti ini. Ku mohon ya Tuhan,jangan biarkan wajah nya sedih jika aku harus
pergi meninggalkan dia saat ini.”
“Eh! kok
bengong sih,ayo di makan tuh bakso nya nanti dingin ga enak loh.”
“Ehh iya iya,
selamat makan Ay.”
Selesai makan
dan jalan-jalan keliling taman kami pun memutuskan untuk pulang, karena memang
hari sudah mau maghrib. Tetapi Ayana tidak ingin pulang terlebih dahulu, dia mau
aku menemani dia untuk melihat matahari terbenam di jembatan besar. Aku pun menyanggupi nya. Sesampai nya di
jembatan besar aku dan Ayana duduk di pinggir jalan sambil menatap matahari
yang hendak terbenam.
“Indah banget
yah mataharinya.” Ucap Ayana dengan berbinar
Akupun hanya
tersenyum menanggapinya.
“Eh! Gua mau
beli minuman dulu yah disana.” Ucap Ayana sambil menunjuk warung di seberang
jalan.
“Iya,
hati-hati yah nyebrangnya!
Dalam hati ku
berkata “mungkin inilah saat yang tepat untuk menyatakan cintaku padanya.” Saat
Ayana menyebrang balik sesudah membeli minuman, di tengah jalan dia menyebrang
ada mobil ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi hendak menabraknya. Dengan sigap
akupun berlari kearah Ayana dan mendorongnya untuk menghindari mobil tersebut.
Tapi apa daya takdir sudah berkata lain. Aku justru tertabrak mobil tersebut.
Orang-orang di sekitar kejadian langsung berlarian menghampiri ku termasuk
Ayana, sementara pengendara mobil yang menabrakku tadi melarikan diri.
“Jay…Jay lu
gapapa? Gua panggil ambulance.” Ucap Ayana yang hendak menelpon ambulance
Ku lihat di
kepalaku luka menganga dengan lebarnya, mungkin karena benturan dengan aspal
karena dorongan yang sangat kuat dari mobil yang menabrakku barusan.
“Jay gua
mohon jangan tinggalin gua.” Ucap Ayana sambil mengangis dengan derasnya
Dengan senyum
sambil menahan sakit akupun berbicara kepadanya.
“ada sesuatu
yang mau gua bilang sama lu Ay. Mungkin ini kesempatan terakhir gua buat bilang
ini ke lu. Gua… Gua sebetulnya sayang sama lu.”
Ayanapun
tersenyum untukku terakhir kalinya.
“Gua juga
sayang sama lu kok Jay. Jadi gua mohon jangan tinggalin gua.”
“Gua mohon
kalau gua udah meninggal nanti lu jangan sedih ya Ay, dan bantu keluarga gua
supaya mereka gak sedih atas kepergian gua nanti. Maaf ya kalo gua harus
niggalin lu sekarang. Gua Cinta lu ay.”
Terima
kasih ya Allah engkau sudah memberikanku satu anugerah terindahmu untukku.
Ayana. Perlahan pandanganku pun menghitam, aku sempat mendengar teriakan dari
Ayana. Dengan sekuat tenaga aku pun berucap “Ayana jangan sedih.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar