Selasa, 04 Februari 2014

Cincin Saturnus
Description: D:\JKT48\800px-Saturn_from_Cassini_Orbiter_(2004-10-06).jpg
Description: D:\JKT48\p4620_saturn.jpg

Saturnus terkenal karena cincin di planetnya, yang menjadikannya sebagai salah satu obyek dapat dilihat yang paling menakjubkan dalam sistem tata surya.

Sejarah

Cincin itu pertama sekali dilihat oleh Galileo Galilei pada tahun 1610 dengan teleskopnya, tetapi dia tidak dapat memastikannya. Dia kemudian menulis kepada adipati Toscana bahwa "Saturnus tidak sendirian, tetapi terdiri dari tiga yang hampir bersentuhan dan tidak bergerak. Cincin itu tersusun dalam garis sejajar dengan zodiak dan yang di tengah (Saturnus) adalah tiga kali besar yang lurus (penjuru cincin)". Dia juga mengira bahwa Saturnus memiliki "telinga." Pada tahun 1612 sudut cincin menghadap tepat pada bumi dan cincin tersebut akhirnya hilang dan kemudian pada tahun 1613 cincin itu muncul kembali, yang membuat Galileo bingung.
Persoalan cincin itu tidak dapat diselesaikan sehingga 1655 oleh Christian Huygens, yang menggunakan teleskop yang lebih kuat daripada teleskop yang digunakan Galileo.
Pada tahun 1675 Giovanni Domenico Cassini menentukan bahwa cincin Saturnus sebenarnya terdiri dari berbagai cincin yang lebih kecil dengan ruang antara mereka, bagian terbesar dinamakan Divisi Cassini.
Pada tahun 1859, James Clerk Maxwell menunjukan bahwa cincin tersebut tidak padat, namun terbuat dari partikel-partikel kecil, yang mengorbit Saturnus sendiri-sendiri dan jika tidak, cincin itu akan tidak stabil atau terpisah. James Keeler mempelajari cincin itu menggunakan spektrometer tahun 1895 yang membuktikan bahwa teori Maxwell benar.




Bentuk fisik cincin Saturnus
Description: D:\JKT48\800px-Saturn_from_Cassini_Orbiter_(2007-01-19).jpg


Cincin Saturnus tersebut dapat dilihat dengan menggunakan teleskop modern berkekuatan sederhana atau dengan teropong berkekuatan tinggi. Cincin ini menjulur 6.630 km hingga 120.700 km atas khatulistiwa Saturnus dan terdiri daripada bebatuan silikon dioksida, oksida besi dan partikel es dan batu. Terdapat dua teori mengenai asal cincin Saturnus. Teori pertama diusulkan oleh Ă‰douard Roche pada abad ke-19, yang menyatakan bahwa cincin tersebut merupakan bekas satelit Saturnus yang orbitnya datang cukup dekat dengan Saturnus sehingga pecah akibat kekuatan pasang surut. Variasi teori ini adalah satelit tersebut pecah akibat hantaman dari komet atau asteroid. Teori kedua adalah cincin tersebut bukanlah dari satelit Saturnus, tetapi ditinggalkan dari nebula asal yang membentuk Saturnus. Teori ini tidak diterima masa kini disebabkan cincin Saturnus dianggap tidak stabil melewati periode selama jutaan tahun dan dengan itu dianggap baru terbentuk.
Sementara ruang terluas di cincin, seperti Divisi Cassini dan Divisi Encke, dapat dilihat dari Bumi, Voyagers mendapati cincin tersebut mempunyai struktur seni yang terdiri dari ribuan bagian kecil dan cincin kecil. Struktur ini dipercayai terbentuk akibat tarikan graviti satelit-satelit Saturnus melalui berbagai cara. Sebagian bagian dihasilkan akibat satelit kecil yang lewat seperti Pan dan banyak lagi bagian yang belum ditemukan, sementara sebagian cincin kecil ditahan oleh medan gravitas satelit penggembala kecil seperti Prometheus dan Pandora. Bagian lain terbentuk akibat resonansi antara periode orbit dari partikel di beberapa bagian dan bahwa satelit yang lebih besar yang terletak lebih jauh, pada Mimas terdapat divisi Cassini melalui cara ini, justru lebih berstruktur dalam cincin sebenarnya terdiri dari gelombang berputar yang dihasilkan oleh gangguan gravitas satelit secara berkala.



Jari-jari
Voyager menemukan suatu bentuk seperti ikan pari di cincin Saturnus yang disebut jari-jari. Jari-jari tersebut terlihat saat gelap ketika disinari sinar Matahari dan terlihat terang ketika ada dalam sisi yang tidak diterangi sinar Matahari. Diperkirakan bahwa jari-jari tersebut adalah debu yang sangat kecil sekali yang naik keatas cincin. Debu itu merotasi dalam waktu yang sama dengan magnetosfer planet tersebut dan diperkirakan bahwa debu itu memiliki koneksi dengan elektromagnetisme. Namun, alasan utama mengapa jari-jari itu ada masih tidak diketahui.
Cassini menemukan jari-jari tersebut 25 tahun kemudian. Jari-jari tersebut muncul dalam fenomena musiman, menghilang selama titik balik Matahari.

Description: D:\JKT48\581px-Voyager_ring_spokes.jpg




J L J

Senin, 25 November 2013

Ayana Jangan Sedih
          Di suatu pagi yang cerah. Dengan tergesa-gesa aku berlari menuju sekolah. Seperti biasanya aku datang terlambat. Padahal hari ini adalah hari pertamaku masuk SMA. Sudah menjadi kebiasaanku dari SMP untuk datang terlambat ke sekolah. Entah sudah berapa kali orang tuaku di panggil oleh pihak sekolah karena kebiasaanku itu. Karena ini hari pertamaku, guru memberikanku toleransi hanya untuk hari ini. Akupun segera menuju kelas yang sudah di tentukan. Saat memasuki kelas aku melihat seseorang yang kukenal semasa SMP. Namanya Rizal, dia adalah sahabatku baikku. Dengan percaya diri aku menghampiri dan menyapanya.
          “Woy Zal! Apa kabar lu?” sapaku dengan ramah
          “Baik Jay, ganyangka gua bisa satu kelas sama lu lagi.”
          “Hahaha! Udah lama gua gak ngeliat mukalu yang unik ini Zal.”
          “Yah terserah lu dah, eh! Lu tau gak kalo si Ayana juga masuk sekolah ini?”
          “Ah! Yang bener lu?” tanyaku dengan penasaran
          “yee… serius gw! Tuh orangnya dateng.” Sambil menunjuk ke arah sesosok perempuan
          Setelah kuperhatikan dengan baik-baik. Ternyata benar bahwa perempuan itu adalah Ayana. Nama lengkapnya Ayana Shahab. Dia adalah tetangga sekaligus sahabatku sejak kami masih kecil. Saat SMP kami juga pernah sekelas, oleh karena itu si Rizal juga mengenal Ayana. Tapi ada yang berbeda darinya. Dia terlihat lebih cantik dan dewasa saat ini. Dengan semangat aku dan Rizal berlari ke arahnya.
          “Weh Ay! Ini beneran Ayanakan?” tanyaku dengan girang
          “Iya! Apa kabar kalian berdua? Gw kangen banget sama kalian”
          “Baik kok, makin cantik aja lu ay.” Candaku kepada ayana
          “Aaahh…. Modus aja lu bro!” celetuk Rizal
          “Hahahahaha!” kami bertigapun tertawa dengan riang
          Karena aku dan Ayana bertetanggaan. Akupun mengajak Ayana pulang bareng bersamaku. Kami menempuh perjalanan pulang dengan berjalan kaki, karena memang rumah kami tidak terlalu jauh dari sekolah. Kami pulang melintasi taman yang dulu menjadi tempat bermain kami saat masih kecil.

          “Jay! Lu inget gak dulu kita pernah main ayunan di situ?”
          “inget kok! dulu lu melulu yang main, gua cuman kebagian dorongin ayunan doang!”
          “Hahahaha! Lagian gua kan cewek Jay, masa gua yang dorongin ayunannya.”
          “iyadeh terserah lu.” Jawabku dengan santai
          Setelah 15 menit kamipun sampai ke rumah masing-masing dan mengakhiri percakapan kami. Keesokkan harinya aku berangkat sekolah dengan Ayana pagi sekali sekitar pukul 6 pagi. Ya beginilah bila berangkat sekolah dengan orang yang memang sangat di siplin. Berbeda denganku yang biasanya berangkat sekolah pukul 7 pagi. Hari demi hari ku lewati, tidak terasa sudah 6 bulan aku menjadi siswa SMA. Dan aku pun semakin dekat dengan Ayana setiap harinya. Sampai akhirnya muncul perasaan suka kepadanya. Entah dia mempunyai perasaan yang sama kepadaku atau tidak, tetapi Hari itu aku berniat ingin mengajaknya ke taman dan mengungkapkan persaanku kepadanya. Sayangnya pada hari Ayana jatuh sakit dan tidak masuk sekolah.
          “Woy bro! Si Ayana kemana? Kok hari ini dia gak masuk?” Tanya Rizal penasaran
          “Dia sakit Zal, katanya sih demam.” Jawabku dengan murung
          “Pantesan aja dia kagak masuk.”
          “Gua entar mau ngejenguk dia di rumahnya, lu mau ikut gak?”
          “yah! Gua entar mau ke rumah nenek gua bro.”
          “Yaudah gapapa sih, entar gua sendirian aja deh.”
          “Sorry banget yeh, gw nitip salam aja buat dia biar cepet sembuh.”
          Sepulang sekolah aku bergegas kerumah Ayana dengan membawa buah-buahan yang kubeli di tukang buah depan sekolah. Kebetulan di depan rumahnya ada ibunya Ayana sedang menyirami tanaman.
          “Permisi tante, Ayananya ada?” tanyaku dengan sopan
          “Ada kok! Ayo masuk!”
         “Iya Tante.”
          “Tuh ayananya lagi tiduran di kamarnya.” Sambil menunjuk ke arah ayana
          “Ay! Gimana kabar lu? Udah baikkan?.”
          “Udah kok, katanya gua cuman kurang istirahat doang.” Jawab Ayana dengan lesu
          “Nih gua bawain buah-buahan buat lu.”
          “Makasih ya Jay, udah perhatian sama gua.”
         “Iya, lagian jugakan kita udah sahabatan dari kecil.”
         “Lu emang sahabat terbaik gua Jay.”
         “ Lu cepet sembuh dong! Entar kalo lu udah sembuh kita jalan bareng di taman.”
         “Iya, tapi traktirin gua makan yah? Hahaha!”
         “Iya itu mah gampang. Gua pulang dulu ya Ay, udah sore soalnya.”
         “Iya, makasih yah udah ngejenguk gua sampe bawain buah segala.”
        “iya sama-sama.”
          Aku pun pulang dengan sedih melihat Ayana dalam keadaan sakit seperti itu. Aku hanya bisa berdoa untuk kesembuhannya. Aku berencana akan mengungkapkan perasaan cintaku saat dia sudah sembuh dari sakitnya. Semoga saja besok dia sudah kembali dalam keadaan sehat. Keesokkan harinya, pagi sekali aku sudah terkaget-kaget karena di suruh bangun oleh si Ayana.
          “Bangun…. Bangun…. Kalo gak bangun gua cium nih!” Teriak Ayana sambil tertawa
         “Apaan sih Ay? Ngagetin aja ahh.”
         “Ayo bangun! Kan janjinya kalo gua sembuh kita mau jalan ke taman bareng.”
         “Yaudah gua mandi dulu, lu tunggu aja di ruang tamu!”
         “Yaudah cepet yah.”
         Pagi itu Ayana datang ke rumahku, karena aku sudah berjanji mengajaknya jalan ke taman bila ia sembuh dari sakitnya. Pagi itu hari Minggu jadi kami bebas dari kegiatan sekolah. Karena hari di mana aku ingin menyampaikan perasaanku saat itu terhalangi, akupun berniat mengungkapkan perasaanku kepadanya hari ini di taman. Selesai mandi akupun menuju ruang tamu untuk menemui Ayana.
         “Lama amat sih mandinya, kayak cewek aja.” Ucap Ayana dengan wajah polosnya
         “Enak aja, emang cewek doang yang mandinya lama.”
         “Yaudah ayo kita ke taman, keburu siang entar.”
         “Yaudah ayo jalan.”


        Kami pun sampai di taman kesukaan kami. Taman yang dulunya selalu menjadi tempat bermain kami sewaktu masih kecil. Ayanapun berlari ke arah pohon yang cukup rindang dan berteriak memanggil namaku.
         “Jay! Coba deh kamu kesini! Lucu deh kupu-kupunya itu, ambilin dong!”
         “Di kira nangkep kupu-kupu gampang.”
         “pliss…! Ambilin dong Jay!”
         “Iyeh! Gua ambilin.”
         Dengan usaha keras akupun berusaha mengambil kupu-kupu itu. Entah sudah berapa kali aku berusaha, tetapi kupu-kupu itu selalu saja terbang menghindar. Sampai akhirnya akupun mendapatkan kupu-kupu itu.
         “Nih! Kupu-kupunya ay.”
         “Ihh… bagus banget sih kupu-kupunya, makasih ya Jay.”
         Melihat senyumnya yang manis dan tulus itu mambuat hatiku terasa senang dan damai.
        “Jay! Kok bengong sih?”
        “Eh! Enggak kok, makan yuk!”
        “ayuk!”
        Kamipun sampai di tempat makan di pinggir jalan. Dengan semangat Ayana menarik tanganku kearah tukang bakso yang ada di situ.
        “Baksonya dua ya mas! yang satu manis yang satu pedes.” Ucap Ayana ke tukang bakso
       “Lah! Kok gua yang pedes lu yang manis sih? Kalo gua kepadesan gimana?”
       “Biarin, lu kan orangnya pedes kalo gua manis. Mau gimana lagi coba?
       “terserah lu deh ay.”
       “yaahh… ngambek nih gak asik ah, senyum dong!” ucap Ayana dengan senyum manisnya
        Dalam hati ku berkata “Ya Tuhan. Andai ini terakhir kali nya aku melihat cintaku tersenyum seperti ini. Ku mohon ya Tuhan,jangan biarkan wajah nya sedih jika aku harus pergi meninggalkan dia saat ini.”
        “Eh! kok bengong sih,ayo di makan tuh bakso nya nanti dingin ga enak loh.”
        “Ehh iya iya, selamat makan Ay.”
          Selesai makan dan jalan-jalan keliling taman kami pun memutuskan untuk pulang, karena memang hari sudah mau maghrib. Tetapi Ayana tidak ingin pulang terlebih dahulu, dia mau aku menemani dia untuk melihat matahari terbenam di jembatan besar.  Aku pun menyanggupi nya. Sesampai nya di jembatan besar aku dan Ayana duduk di pinggir jalan sambil menatap matahari yang hendak terbenam.
          “Indah banget yah mataharinya.” Ucap Ayana dengan berbinar
          Akupun hanya tersenyum menanggapinya.
          “Eh! Gua mau beli minuman dulu yah disana.” Ucap Ayana sambil menunjuk warung di seberang jalan.
          “Iya, hati-hati yah nyebrangnya!
          Dalam hati ku berkata “mungkin inilah saat yang tepat untuk menyatakan cintaku padanya.” Saat Ayana menyebrang balik sesudah membeli minuman, di tengah jalan dia menyebrang ada mobil ugal-ugalan dengan kecepatan tinggi hendak menabraknya. Dengan sigap akupun berlari kearah Ayana dan mendorongnya untuk menghindari mobil tersebut. Tapi apa daya takdir sudah berkata lain. Aku justru tertabrak mobil tersebut. Orang-orang di sekitar kejadian langsung berlarian menghampiri ku termasuk Ayana, sementara pengendara mobil yang menabrakku tadi melarikan diri.
          “Jay…Jay lu gapapa? Gua panggil ambulance.” Ucap Ayana yang hendak menelpon ambulance
          Ku lihat di kepalaku luka menganga dengan lebarnya, mungkin karena benturan dengan aspal karena dorongan yang sangat kuat dari mobil yang menabrakku barusan.
          “Jay gua mohon jangan tinggalin gua.” Ucap Ayana sambil mengangis dengan derasnya
          Dengan senyum sambil menahan sakit akupun berbicara kepadanya.
          “ada sesuatu yang mau gua bilang sama lu Ay. Mungkin ini kesempatan terakhir gua buat bilang ini ke lu. Gua… Gua sebetulnya sayang sama lu.”
          Ayanapun tersenyum untukku terakhir kalinya.
          “Gua juga sayang sama lu kok Jay. Jadi gua mohon jangan tinggalin gua.”
          “Gua mohon kalau gua udah meninggal nanti lu jangan sedih ya Ay, dan bantu keluarga gua supaya mereka gak sedih atas kepergian gua nanti. Maaf ya kalo gua harus niggalin lu sekarang.  Gua Cinta lu ay.”
          Terima kasih ya Allah engkau sudah memberikanku satu anugerah terindahmu untukku. Ayana. Perlahan pandanganku pun menghitam, aku sempat mendengar teriakan dari Ayana. Dengan sekuat tenaga aku pun berucap “Ayana jangan sedih.”